Kelebihan dan Kekurangan ” Sunni – Syiah “

imam-ko.jpg
Ayatulloh Imam Khomaini, Simbol perjuangan kaum Syiah

Perselisihan Sunni dan Syiah sepertinya akan terus berlanjut. Seingat penulis dulu-dulu dibeberapa kota di Indonesia sering diadakan debat antara Sunni dan Syiah. Yang mana berakhir dengan KO-nya kubu Syiah. Alasannya para penyaji serta para pendukukung Syiah yang datang sangat sedikit. Argumen yang disampaikan hanya berdasarkan pikiran dan kepandaian dalam retorika saja. Berbeda dengan dengan Kubu Sunni. Yang banyak penyajinya. Banyak pendukungnya. Dengan dalil-dalil hebat dan mantap. Yang membudah seperti busa keluar dari mulut. Singkatnya Kalangan Syiah jika berdebat secara terbuka suka terkalahkan dan dipukul KO oleh kubu Sunni. Tapi ada Kehebatan yang dimiliki oleh kalangan Syiah. Kalangan Syiah sangat hebat dalam menggunakan pena / tinta sebagai pedang. Untuk mengalahkan, menghanyutkan dan menarik pengikut. Coba perhatikan buku-buku yang dikarang atau disusun oleh kalangan Syiah. Hebat, Lux Covernya bagus. Judul, isi dan tulisannya sangat membuat orang yang melihat dan membacanya sangat tertarik dan membuat penasaran. Namun berbeda dengan Kalangan Sunni. Yang buku dan karangan sunni sepertinya dibuat kurang menarik, kumuh dan murah. Maka inilah saya sebut sebagai kelebihan dan kekurangan kalangan Syiah dan Sunni. Dalam sebuah catatan sejarah yang pernah penulis baca, Dahulu ketika sering terjadi peperangan antara Syaih dan Sunni. Para pengikut syiah suka terkalahkan. Hingga akhirnya mereka kabur dan lari kegunung dan kehutan untuk menghindari kejaran orang-orang sunni. Maka disitulah para pemimpin Syiah berkata : “Mulai saat ini dan untuk selanjutnya. Bukan pedang untuk mengalahkan mereka. Tapi dengan tinta-tintalah kita kalahkan mereka” . Sambil mematahkan dan membuang pedang yang ada ditangan. Anda tidak percaya ? coba lihat tulisan-tulisannya. (bersambung)

Penulis : Muhammad Rachmat. Terlarang untuk dicopy. sebelum ada izin.

16 Tanggapan ke “Kelebihan dan Kekurangan ” Sunni – Syiah “”


  1. 1 Ram-Ram Muhammad Desember 9, 2007 pukul 5:20 am

    Untuk ikut meramaikan kancah perpecahan dalam Islam, akang usulkan kita membuat aliran baru, namanya Islam Doank, alias gak berafiliasi pada pemikiran-pemikiran yang sudah ada. Hehehe. Kalau mau ikut, ada hadiah tiket ke surga untuk pendaftar 1000 pertama.

    Rachmat, kebanyakan kita lupa bahwa kelahiran aliran Syiah dan Sunni berawal dari konflik politik. Begitu pula dengan kelahiran aliran-aliran yang sekarang berkembang, setidaknya muncul karena warisan konflik. lalu masing-masing mengklaim sebagai paling Islam. Nah, sekarang kita coba berdagang aliran baru ok… hihihi

  2. 2 Ram-Ram Muhammad Desember 9, 2007 pukul 5:22 am

    Akang sedang menyusun sebuah novel tentang konflik agama. Sebentar lagi kelar, doakan ya

  3. 3 Muhammad Rachmat Desember 9, 2007 pukul 5:33 am

    1. Kang Ram-Ram Muhammad : Untuk ikut meramaikan kancah perpecahan dalam Islam, akang usulkan kita membuat aliran baru, namanya Islam Doank, alias gak berafiliasi pada pemikiran-pemikiran yang sudah ada. Hehehe.

    Akang sedang menyusun sebuah novel tentang konflik agama. Sebentar lagi kelar, doakan ya

    2. Muhammad Rachmat : Siap…!!! saya selalu berpikir bahwa ISLAM lebih dulu lahir dari Sunni, Syiah dan yang lainnya. Suatu saat mau main lagi ke pondok Iqro ah !

  4. 4 savic Desember 27, 2007 pukul 4:22 am

    penyaji syiah nya aja tuh kurang wawasan.. jadi pantes klo debat kalah…

    ngapain sih pake debat2 yah… mbok mendingan kerjasama buat mengentaskan kemiskinan dan menegakkan perdamaian…

  5. 5 Ghoelam Desember 29, 2007 pukul 8:37 am

    Pernah baca novel da vinci code? Disana ada penjelasan, sprt kemanusiaan Jesus. Demikian pula adanya syiah dalam mayoritas sunni. Mereka yakin bhw sebelum wafatnya Nabi saw, beliau menunjuk Ali as sebagai penggantinya (bukn nabi) dalm urusan agama dan politik, sebagaimana nabi2 terdahulu. Penunjukan itu karena hanya kepribadian Ali yang pantas sebagai imam. Selain sebagai orang kedua masuk islam stlh khadijah, ia lebih bertakwa dan pandai dibanding Abu bakr dan umar. Coba baca referensi2 islam, niscaya kita semua tahu apa yang terjadi, dan yang ditutupi dalam sejarah islam. Salam

  6. 6 gorofaiz Juni 21, 2008 pukul 3:22 am

    tidak hanya di syiah saja, hadits tsb juga diakui kok di kalangan sunni…

    dan kalangan sunni pun juga mengakui kelebihan/keistimewaan Ali…

    sebenarnya daripada debat, siapa pun, selama mereka masih
    1. mengakui bahwasannya tiada Tuhan selain Allah… (La ilah ha illallah…)
    2. bersaksi bahwasannya tiada Tuhan selain Allah… (Asyhadu An La Ilaha Illallah…)
    3. bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah… (Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah…)

    mereka masihlah saudara kita…

    kalo ada perbedaan pendapat, yaa ga papa… perbedaan itu kan juga bagian dari keindahan…
    bayangkan coba kalo sama semua, ga enak kan?? coba bayangkan dunia co semua tanpa adanya ce?? ga enak kan??
    makanya di Islam ada kata2 indah: “perbedaan itu indah”

    :)

  7. 7 vyan_bandung September 9, 2008 pukul 6:15 am

    kalau bisa kami pemuda-pemuda islam yang ingin benar-benar memperjuangkn islam diberi versi lengkapnya,,,,

    kami dari HRM sma5 cimahi

  8. 8 Khalisa November 24, 2008 pukul 7:55 am

    Perselisihan Sunni dan Syiah sepertinya akan terus berlanjut. Seingat penulis dulu-dulu dibeberapa kota di Indonesia sering diadakan debat antara Sunni dan Syiah. Yang mana berakhir dengan KO-nya kubu Syiah.

    Ah yang benar mas ? KO nya spt apa ? Apa pendukung Sunni lebih banyak ?

    Argumen yang disampaikan hanya berdasarkan pikiran dan kepandaian dalam retorika saja. Berbeda dengan dengan Kubu Sunni. Yang banyak penyajinya. Banyak pendukungnya. Dengan dalil-dalil hebat dan mantap.

    Mas apa tidak terbalik ? Saya pernah debat dengan orang Syi’ah pada tahun 1996 mengenai hadis Tsaqalain. Ternyata kita sebagai orang yang mengaku Ahlu Sunnah merasa asing dengan hadis Tsaqolain dg redaksi “Kitabullah wa ithrati ahlibaiti” yang dilontarkan Syi’ah . Selama ini kita cuma mengenal redaksi “Kitabullah wa sunnati”.

    Padahal hadis dg redaksi “Kitabullah wa ithrati ahlil baiti” adalah hadis sahih bahkan mencapai mutawatir (banyaknya jalur periwayatan) daripada yang berbunyi “Kitabullah wa sunnati” yang hanya ada dalam kitab hadis Al-Muwatta.

    Begitu juga dg hadis 12 khalifah sepeninggal Rasul saw yang diriwayatkan Bukhori, Muslim dll. Sepertinya teman2 dari Sunni juga merasa spt baru mendengar hadis ini. Juga hadis Ghadir Khum yang menetapkan Ali sebagai pengganti Rasulullah saw yang mencapai derajat mutawatir. Semua ini dijadikan hujjah oleh Syi’ah. Sementara Sunni berusaha membelokkan makna hadis2 tsb atau mentakwilnya menjadi makna yang lain.

    Atau cara lain yang ditempuh adalah menggunakan hadis2 dhaif atau maudhu untuk menandingi hadis2 sahih tsb.

    Contoh yang lain adalah ketika menafsirkan QS Al-Ahzab 33, Ahlu Sunnah berusaha mengaburkan arti Ahlul Bait dengan memasukkan para istri Nabi saw dan kerabat2 yang lainnya dg argumentasi yang sangat lemah. Padahal hadis yang berasal dari Zaid bin Arqam jelas mengeluarkan istri2 Nabi saw dari lingkup Ahlul Bait.

    Jadi menurut saya tidak tepat kalau Syi’ah tidak punya hujjah atau dalil yang kuat. Debat tidak hanya diukur dari segi kehebatan retorika pihak yang berdebat. Boleh jadi seseorang punya dalil yang kuat tetapi lemah dalam retorika dan sebaliknya. Tapi dari pengamatan saya tehadap forum diskusi di blog2 Syi’ah atau Sunni, saya mempunyai kesan bahwa dalam masalah isyu2 perbedaan Sunni dan Syiah, maka pihak Syi’ah lebih mempunyai argumentasi dan dalil yang lebih kuat, baik secar aqli maupun naqli.

    Terima kasih.

  9. 9 M. Abdullah Habib Desember 1, 2008 pukul 1:13 pm

    Menurut saya perbedaan adalah jalan menuju kemajuan pemikiran, yang penting masing-masing mau saling memberi dan menerima. Yang perlu kita khawatirkan bersama, kalau wahhaby sudah mulai menampakkan hidungnya, mereka akan numbur sana sini yang bikin semua keropotan.

    Maaf kalau ada pengikut setia wahhaby, saya nulis ini hanya ungkapan hati kecil saya yang tidak senang ketumbur tumbur.

  10. 10 moulana Februari 16, 2009 pukul 6:13 am

    sampai akhir zaman pengikut syiah akan trus di tindas tapi dng mengingat tragedi pembantaian imam husain yg jauh lebih menderita membuat kalangan syiah jadi lebih kuat dan tegar. smua itu dilakukan atas kecintaan terhadap rasulullah dan ahlul baitnya yg telah memberikan cahaya islam dalam hidup kita smua. yg membedakan kita dng hewan adalah akal jadi mari kita cari kebenaran dan bukan kemenangan.carilah kebenaran itu dng benar tanpa mempertahankan yg salah. smoga allah swt mempertemukan kita dng rasulullah dan ahlul baitnya dan smoga allah swt memberikan kekuatan kepada orang pengikut syiah dr segala penindasan.
    “ya allah limpahkanlah rahmat kpd nabi muhammad beserta ahlul baitnya”

  11. 11 hefni husaini Juni 8, 2009 pukul 3:35 pm

    JANGAN SAMPAI GARA2 DAIANGGAP PALING BENAR, SHG LUPA PADA TUJUAN UTAMA DALAM KEHIDUPAN. AKU CINTA AHLUL BAIT AKU JUGA CINTA AHLUL SUNNAH.

  12. 12 hefni husaini Juni 8, 2009 pukul 3:36 pm

    TP aku LEBIH CINTA ALLAH, ROSUL, DAN AHLUL BAIT

  13. 13 ihsan Juli 23, 2009 pukul 10:02 am

    kalo masalah takwil…jelas2 orang syi’ah adalah jagonya…
    coba liat…hadist ghadir khum…mana yang menunjukkan tentang imamah Ali R.A..??
    dalil mungkin shahih, tapi belum tentu sharih (jelas penunjukannya)

  14. 14 Wargahadi Oktober 17, 2009 pukul 5:26 am

    Aku cinta Allah SWT, Cinta Rasul2nya, Cinta AhlulBaitnya, Cinta Sahabat2 Rasulnya tapi bukan Syi’ah

  15. 15 Khufi Oktober 19, 2009 pukul 8:06 am

    Salam buat semuanya

    membaca uraian anda, malah sebaliknya yang saya alami, saya sering datang ke ustadz-ustadz sunni yang belajarnya sudah lama, namun begitu saya datang ke ustadz syiah ahlulbait menjadi lemah argumentasinya, misal pada masalah kepemimpinan, coba anda baca Perihal kepemimpinan yang versi Mazhab 4, Khanafi, Maliki, hambali dan Syafii, dibanding argumentasi yang ditawarkan oleh syiah baik secara aqli maupun naqli, syiah lebih baik kalau kita kaitkan dengan dalial : Athi’ullah waathi’urrasul waulilamriminkum, kalau mentatai Allah dan Rasul Itu Mutlak berarti mentaati ulilamri adalah mutlak karena kata sambung yang digunakan pada dalil diatas tidak berubah sec. bahs arab itu menujukan sama. sehingga ketika mentaati itu menjadi mutlak maka yang kita taati haruslah sama seperti rasulullah, dan itu adalah kewenangan allah karena kaitannya dengan Risallah Allah itu sendiri, sehingga tidak mungkin Allah menyuruh manusia yang untuk menjaga Risallahnya itu diserahkan oleh manusia itu sendiri.. paling tidak Allah memberika kriteria dan wajib menyampaikan lewat rasulnya, sehingga kalau itu diserahkan kepada manusia…waah berabe dech…begitu juga rasulullah mesti telah menyampaikan siapa yang akan menjadi penerusnya, kalau tidak maka Rasullah akan tidak menjadi sempurna…karena tidak memberi solusi dalam kepemimpinan Islam…dan banyak lagi yang lainnya…semoga bisa menambah wawasan.
    terima kasih
    wassalam..

  16. 16 rahmat Oktober 27, 2009 pukul 8:04 am

    Ass.wr wb

    Saya setuju bahwa suni syi’ah itu timbul karena keadaan suhu politik waktu itu, cuma saya jadi bertanya-tanya kenapa Imam Ali yang pemberani, siap mengorbankan nyawanya demi Allah dan Rasulnya, menjadi lemah saat ke-khalifahan direbut Abu Baka r.a. (kalo konsep imamah itu wajib dan itu perintah Allah dan Rasunya????? seharusnya imam Ali berani bersikap tegas, bukan malah menjadi penasihat kekhalifahan ……tolong jawab saudaraku kaum Syi’ah….. saya orang bodoh…..


Tinggalkan Balasan




Santri Yang Kabur

  • 8,121 Santri

Obyektif – Hiburan – Tidak menebarkan kebencian

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Perjalanan Waktu

Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31